Pentingnya Aktivitas Fisik untuk Cegah Diabetes pada Anak

0
4
Source : kompas.com

LINIBERITA.ID, JAKARTA – Penyakit diabetes yang berhubungan dengan kadar gula darah tinggi, merupakan salah satu isu yang sudah lama digaungkan ke publik. Mengingat, diabetes termasuk penyakit kronis dan seringkali menyebabkan kematian.

Namun diabetes sebenarnya bisa dicegah lewat pola hidup sehat dan rajin beraktivitas. Pasalnya, diabetes Tipe 2 yang sering dijumpai, memiliki hubungan erat dengan gaya hidup seseorang. Berbeda dengan diabetes tipe 1, yang diakibatkan oleh riwayat atau keturunan.

Isu ini paling sering disampaikan kepada masyarakat yang sudah berumur. Padahal nyatanya, diabetes juga bisa menyerang anak-anak. Justru jika tidak dicegah dari awal, anak-anak bisa menjadi bagian dari golongan umur yang rentan terhadap penyakit tersebut.

Dalam rangka merayakan Hari Diabetes Sedunia pada 14 November 2022, Sun life dan Wahana Visi Indonesia bersama Active Healthy Kids Indonesia, melakukan peresmian program Build Our Kids’ Success (BOKS).

Adapun, program tersebut bertujuan untuk menciptakan generasi yang paham akan hidup sehat dengan mengadakan aktivitas fisik yang aman dan suportif, Senin (14/11/22).

Lantas, apa hubungan antara aktivitas fisik dengan penyakit diabetes pada anak?

Dr. Agus Mahendra selaku Country Leader Active Healthy Kids Indonesia, menjelaskan bahwa aktivitas fisik dengan frekuensi dan intensitas yang cukup, merupakan bagian dari langkah pencegahan diabetes.

Pasalnya, makanan yang kita konsumsi pada akhirnya akan diubah menjadi gula dan disimpan saat tubuh membutuhkan energi ketika melakukan aktivitas fisik.

Nah, jika tidak ada aktivitas atau pergerakan yang dilakukan, insulinlah yang akan menyerap glukosa dalam sel-sel tubuh, guna mengendalikan kadar gula darah.

“Gula darah dalam tubuh meningkat setiap kali kita makan kan. Gula darah akan dipakai oleh tubuh untuk memberikan sumber energi. Walaupun kalau tidak dipakai akan disimpen dulu dalam liver,” tutur Dr. Agus.

“Kalau kita nggak aktif secara fisik, tubuh kita akan memperlelah atau membebani kerja insulin tersebut. Setiap kali kita makan banyak, tidak bergerak, insulin bekerja. Lama-lama insulin tadi akan kehilangan fungsinya yang efektif untuk menurunkan gula darah. Dari situlah akhirnya timbul Type 2 Diabetes,” lanjutnya.

Dr. Agus juga sempat memaparkan bahwa dalam Indonesian Report Card on Physical Activity for Children & Adolescents 2022, aktivitas fisik anak-anak Indonesia masih tergolong sangat rendah dan belum mengikuti standar World Health Organization.

Hanya kurang dari 20% jumlah populasi anak-anak di Indonesia yang memenuhi kebutuhan aktivitas fisik sehari-hari, 60 menit per hari.

Report card dinilai berdasarkan beberapa indikator, di antaranya active transportation, physical fitness, family and peers, school, dan government.

Sayangnya, kelima indikator utama ini masih berada di penilaian antara F, D-, dan B-. Cukup jauh dari nilai sempurna yakni A+, dengan jumlah anak-anak yang memenuhi aktivitas fisik berkisar 94% hingga 100%.

Namun, perhatian lebih besar harus diberikan terhadap indikator physical fitness, family and peers, dan sekolah yang bernilai F.

Artinya, ketiga indikator ini belum berhasil mendukung aktivitas fisik anak-anak secara maksimal dan efektif.

Sebut saja di sekolah, pelajaran olahraga hanya dilaksanakan sekali seminggu. Itupun tidak inklusif untuk semua murid, biasanya hanya yang berbakat saja yang dapat memenuhi kurikulum olahraga tersebut.

Belajar dari pentingnya aktivitas fisik untuk mencegah diabetes, Dr. Agus berpesan kepada orangtua supaya memastikan bahwa anaknya sudah bergerak cukup.

Gerakan apapun sebenarnya bagus. Namun memang secara definisi menurut Dr. Agus, aktivitas jasmani merujuk pada gerakan tubuh yang melibatkan otot besar dan membutuhkan supply energy yang banyak.

Ketika mereka sudah terengah-engah, berkeringat, serta denyut nadi berdetak maksimal, maka bisa ditandakan bahwa aktivitas fisik telah dilakukan.

Sederhananya anak-anak bisa berlari bolak balik, berjoget, berolahraga, atau bahkan permainan tradisional seperti “Benteng/Bentengan” juga tidak kalah efektif untuk membuat si kecil berkeringat.

Ingat, direkomendasikan aktivitas fisik tersebut dipenuhi selama 60 menit per hari dan bisa dibagi menjadi beberapa sesi seperti 30 menit pagi dan 30 menit di sore hari.

Selain itu, asupan makanan juga harus diperhatikan. Apalagi di momen sekarang, semakin banyak makanan dan minuman manis yang beredar, tanpa pengujian terhadap batas normal gula pada makanan atau minuman tersebut.

Kembali lagi, perkembangan anak yang sehat sebenarnya membutuhkan dukungan bukan hanya dari orangtua, tetapi juga sekolah dan guru.

Maka dari itu, Sun Life dan Wahana Visi Indonesia mengambil kontribusi untuk mengedukasi pentingnya aktivitas fisik dengan mengintegrasi program BOKS sesuai dengan kurikulum sekolah.

Guru dan kepala sekolah juga diberikan pemaparan supaya dapat menyediakan pembelajaran yang menyenangkan serta interaktif supaya anak-anak terus termotivasi untuk bergerak. (red)